Kata seseorang ‘menulis itu bebas’

Dulu aku pernah bermimpi untuk bisa menerbitkan suatu buku, entah itu buku tentang apa yang penting aku menulis apa yang aku pikirkan. Sebelum aku mempunyai laptop ini aku sering menulis di sebuah catatan kecil yang selalu kubawa kemana aku pergi. Di dalam catatan itu tertulis semua tentangku, kehidupan sehari-hariku, masalahku, sampai catatan keuanganku.

Suatu ketika aku bertemu seorang teman, dia adalah seniorku ketika duduk di bangku SMP. Dia yang memperkenalkanku kepada sebuah situs blog. Saat itu dia menunjukkan blog yang isinya adalah tulisan-tulisannya. Mulai dari tulisan ilmiah, filosofi kehidupan sampai dengan cerita cintanya. Dia menjelaskan padaku bahwa menulis itu adalah satu cara mengungkapkan rasa. Menulis itu adalah suatu demokrasi, menulis itu adalah ekspresi jiwa, menulis itu adalah seni dan menulis itu tak kenal mana tulisan baik dan mana tulisan buruk. Semua tergantung masing-masing pribadi yang menilai tulisan itu.

Lalu aku sodorkan catatan kecilku kepadanya dan memintanya untuk membaca tuisan-tulisanku. “Cukup pragmatis.” Jawabnya dengan singkat. “Maksud kakak?” tanyaku menyambar. Kemudian dia menjelaskan tentang penilainnya terhadap tulisanku. Aku terdiam dan berpikir, kalau apa yang dia katakan adalah benar berarti aku bebas menulis apapun sesukaku. Hanya saja aku tidak diperbolehkan terlalu dramatis. Aku mengerti.

Hingga suatu saat aku diminta menulis untuk sebuah kepentingan politik, isi tulisannya tentang pemberdayaan masyarakat di suatu daerah. Orang yang meminta aku untuk menulis ini adalah orang yang menurutku terlalu mencari citra di hadapan masyarakat yang saat itu diberdayakan. Mengapa aku beranggapan begitu? Karena aku melihat kejanggalan, dan kejanggalan-kejaggalan itu yang kutuangkan ke dalam tulisanku.

Saat itu aku berpikir, inilah saatnya impianku tercapai. Awal yang baik untukku mulai menulis dan tulisanku dikenal orang banyak.

Setelah tulisanku rampung, aku menyerahkannya kepada orang tadi. Mungkin karena dia merasa tersinggung oleh tulisanku akhirnya dia mengubah tulisanku dan menerbitkannya di sebuah media. Jelas saja setelah tulisanku terbit aku langsung tersentak dengan kalimat-kalimat dalam tulisan itu yang notabena bukan hasil pikiranku. Ini rekayasa, ini pembodohan, ini membohongi public. Orang itu membuat seolah-olah dia adalah malaikat di mata masyarakat dan seakan-akan aku yang menulis semua itu.

Kecewa, aku merasa menulis tak sebebas apa yang diceritakan seniorku. Langkah awalku menulis di media masa dihancurkan oleh orang yang ‘katanya’ tokoh di kalangannya.

Aku berhenti menulis untuknya dan tidak lagi mau menulis untuk diterbitkan oleh media cetak manapun. Namun aku masih sering menulis hanya sekedar untuk mengeluarkan keluh kesahku, seperti tulisan di blog ini misalnya dan beberapa tulisan lain yang belum sempat ter’publish’

 

Langkah Jendral Byntank yang terhenti

Langkah Jendral Byntank yang terhenti

Termenung ku menatap postinganmu, sepasang kaki yang tak lagi berdaya, lumpuh tak bergerak. Sejenak air mataku menetes perlahan dan semakin deras. Inikah kaki yang dulu kuat dan dengan gagahnya mengiringi setiap langkah kecilku?
Dalam diam aku meratap, mengenang masa-masa saat kita bersama. Dengan kakimu itu dulu kau mengejarku, dengan kakimu itu kau membawa cintaku pergi ke tempat terindah. Kini kau hanya bisa terbaring dan tak lagi menampakkan kegagahanmu. Tak ada lagi kaki yang dulu melangkah bersamaku.
Batinku semakin tersiksa saat aku tak dapat menemani deritamu. Semua karena kisah kita tlah berlalu, terbang bersama angan-angan kita.
Di setiap tetes air mata ini terselip doa, semoga kaki itu lekas pulih dan kembali kuat berjalan bersama impianmu yang terhenti. Semoga lekas sembuh dan dapat menjalankan tugas kembali.
:’)

Pura-pura ninja batal nugas

Ting tong,, handponeku berbunyi tepat pukul 7 pagi.

“Geng, nanti nugas ya jam 11, on time”. Begitu isi pesan singkat yg dikirim oleh salah satu anggota pura-pura ninja. Dengan segenap rasa malas, aku melanjutkan tidurku dan akhirnya terbangun di pukul 9 pagi. Seperti biasa aku memulai aktivitas pagiku, membersihkan kamar, menyiapkan sarapan dan nongkrong di depan televisi. Sampai pukul 10:30 aku mulai bergegas menyiapkan isi tas yang akan kubawa ke kampus untuk mengerjakan tugas bersama teman-teman.

Sudah menjadi kebiasaan, kalau sudah ada janji yang on time ya pasti aku tepatin on time. Tapi hari ini ada satu yang membuatku sedikit terlambat yaitu kehilangan salah satu buku. Seketika aku obrak abrik seisi rak buku dan lemariku tapi tak ada kutemukan buku itu. Akhirnya aku putus asa dan pergi ke kampus tanpa membawa buku yang kurasa akan berguna saat membuat tugas nanti.

Sesampainya di kampus, teman-teman sudah duduk terdiam menungguku. Dengan tampang tegang di depan laptop mereka masing-masing, mereka bertanya, “mana tugasnya geng?”. Sapaan yang terlalu berat untuk didengar ketika tidak satupun tugas yang terselesaikan. “Mana ada aku buat tugas”, jawabku dengan datar.

Akhirnya Prana, Ata dan Bulan hanya bisa terdiam di depan laptopnya bukan untuk menyelesaikan tugas tapi untuk bermain game, download dan menonton film.

Hari ini adalah H-3 menjelang ujian dan belum satupun tugas yang benar-benar mereka selesaikan. Lalu apa yang kucari ke kampus kalau sudah begini?

Sudah menjadi kebiasaan aku dan teman-temanku ini selalu mengerjakan tugas sehari sebelum dikumpul. Kata salah satu dosen, itu memang tradisi turun menurun dan dosen itu juga sering menerapkan system  “The Power of Kepepet”.

Realitanya, mahasiswa seperti kita ini hanya bisa mengerjakan tugas dalam keadaan terdesak. Kadang tekanan itu membawa inspirasi tersendiri.